Thursday, July 30, 2009

Gara-gara menyortir barang bekas saya jadi merenung...

Bangun pagi hari ini saya sedikit bernafas lega! 

Lega melihat tumpukan barang-barang bekas dari member yang tadinya menumpuk di loteng sudah tersortir dan tertumpuk rapi. 

Lega karena tahu hari ini saya bisa istirahat sebentar sebelum kiriman barang-barang selanjutnya membanjiri rumah saya lagi, karena sejak hari Senin, bertubi-tubi email dan sms datang dari member-member Jakarta Garage Sale yang berniat mengantar barang dihari-hari ke depan.

5 hari saya berkutat di tengah tumpukan barang-barang bekas. 

Nggak habis-habisnya saya geleng-geleng kepala sendiri melihat banyaknya barang yang bertebaran. Amazing! 

Saya jadi merenung sendiri, “Apakah benar kita sebagai manusia membutuhkan demikian banyak barang dalam hidup kita?” 

Pada saat merenung di tengah tumpukan barang-barang bekas ini, saya teringat sebuah quote dari film “The 11th Hour” yang dinarasikan oleh Leonardo DiCaprio (highly recommended for you to watch!) Inti quote itu adalah, seharusnya manusia dalam hidup berpegang pada prinsip well being, and not well having.

Saya pribadi setuju dengan prinsip ini. 

Bicara well being artinya bicara kualitas hidup. Dan kualitas hidup seperti apa yang sebenarnya bisa bikin kita bahagia sebagai manusia? Relatif, tergantung masing-masing individu. Tapi saya pribadi setuju dengan pendapat para filosofer bahwa well being erat kaitannya dengan rasa bahagia terhadap hidup, yang di dalamnya terdiri dari berbagai elemen, antara lain: spiritual, fisik, biologi.  

Dari pengalaman saya belajar, to be happy I have to live a good life dan untuk itu saya harus terus mem-balance faktor-faktor dasar dalam hidup. Tidak ada yang boleh di-abuse maupun di-ignore.  Dan saya masih terus belajar ...

Jujur, rasanya lebih gampang untuk ikut dalam arus well having. 

Apalagi hidup dizaman yang serba mudah dan cepat sekarang, dan hidup di kota besar seperti Jakarta. Apalagi manusia memang punya kecenderungan sifat tidak pernah puas. Kalau dalam batas wajar, oke lah. Tapi kalau kita diperbudak?

Kita bisa dengan gampangnya terseret arus. Very soon, tanpa kita sadari, it will always be about having more!

Contoh gampangnya saja, gara-gara beli satu baju, kita merasa perlu sepatu, tas dan ikat pinggang yangmatching. Banyak ya? Padahal awalnya hanya 1 baju … Waktu dan kebiasaan terus berjalan,  tanpa sadar sudah puluhan baju, tas dan sepatu menumpuk di lemari menunggu giliran untuk dipakai. Susah juga toh? Karena badan kita memang cuma 1! Sebanyak-banyaknya baju yang kita punya, kita hanya punya 1 badan untuk dipakaikan baju. Dipakai bergantian adalah salah satu solusi, tapi kalau kita diberi umur dan kesehatan...

Waktu menyortir barang-barang saya sendiri, saya sempat serasa ditampar. 

Aduh! Banyak juga barang yang saya beli yang akhirnya nggak saya pakai. I feel guilty! 

I have to admit to myself, it was fun to shop and have the stuff. But there’s nothing more! Kenyataan yang menyedihkan untuk saya!

Pada saat menyortir barang-barang orang lain, saya agak berbesar hati, karena ternyata saya tidak sendirian.  

So, kalau pada saat perpindahan tahun kita sering membuat ‘new year’s resolution”, menjelang acara 1st Garage Sale tanggal 1 Agustus yang tinggal beberapa hari lagi ini, saya juga membuat resolusi untuk diri saya sendiri; "I will try harder to live a good well-being life…."

At the end of the day, I felt good and happy for the garage sale. 

I enjoy every moment of it. 

Saya berharap barang-barang bekas yang akan dijual nanti bisa membawa manfaat dan kebahagiaan untuk yang membutuhkan barang. 

Hari ini, tim Jakarta Garage Sale berkeliling membagikan brosur acara ke sekolah negeri, ke warung, ke pos satpam, dst. Acara 1st Garage Sale bukan hanya untuk segelintir kalangan, it’s open for all! 

Per hari ini saja, ada sekitar 600 baju bekas layak pakai dan layak jual yang mudah-mudahan bisa berguna untuk mereka yang membutuhkan. Terutama mereka yang punya banyak keterbatasan dalam hidupnya.Baju-baju ini akan dijual murah, bahkan ada yang dijual dengan harga Rp. 3.000. 

Kemarin, bapak yang biasa ronda di area rumah saya , yang mendapat informasi tentang acara ini dari supir saya,  sudah berkomentar “Saya boleh datang? Saya mau ajak anak-anak saya datang biar bisa milih baju dan mainan sendiri.” His comment made my day…

Dan untuk mereka yang lebih fortunate, sekedar berbagi rasa, berdasarkan pengalaman pribadi selama ini, kalau saya beli barang bekas layak pakai disebuah garage sale, alasannya adalah penghematan. Dan penghematan bukanlah kemiskinan, penghematan adalah bijaksana...


Prinsip Sortir Barang Untuk Dijual di Garage Sale

Sudah beberapa hari ini Jakarta Garage Sale sibuk membongkar berdus-dus dan berkantong-kantong barang bekas yang diantar beberapa member ke hub untuk dijual di acara 1st Garage Sale tanggal 1 Agustus 2009 di Kalila Resindence (terima kasih untuk Tesza, Nina, Kikio dan Nila). 

Nggak ada jalan pintas untuk mengerjakannya. Semua barang, harus satu per satu barang dibolak-balik untuk dinilai. Bergelas-gelas es teh habis secara udara Jakarta memang sedang panas-panasnya selama beberapa minggu terakhir. Tapi karena semuanya dikerjakan pakai ‘hati’, seluruh proses bongkar dan sortir barang rasanya jadi  an accomplishment dan an adventure tersendiri.

Ada 3 prinsip sederhana yang selalu kami pakai dalam menyortir dan menilai barang bekas yang kami terima.

Yang pertama, fungsi barang. Apakah barang memang punya fungsi dan manfaat? Kalau ya, untuk siapa? 

Yang kedua, kondisi barang. Setiap barang kami dipertimbangkan benar-benar kondisinya, dari mulai bentuk, bahan, warna dan terutama apakah ada kondisi yang menyebabkan barang itu kurang/tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. 

Lalu, prinsip yang ketiga adalah umur barang. Sudah berapa lama barang dipakai oleh pemilik pertama? Masih berapa lama lagi kira-kira barang bisa dipakai dan berfungsi?

Merek barang? 

Itu sih jadi penilaian terakhir.  Kalau memang barang bekasnya masih bagus kondisinya dan memang barangnya punya merek, ya itu jadi nilai plus. Bukan cuma karena harga barang barunya yang biasanya nggak murah tapi juga karena barang-barang ber-merek ini punya kualitas bagus dan daya tahan yang lebih kuat. Jadi, bisa punya manfaat besar untuk pemilik berikutnya.

Semua barang yang masuk ke markas Jakarta Garage Sale kami kelompokkan berdasarkan prinsip ini, lalu diberi harga satu per satu.  Seringkali waktu memberi harga, kami minta second opinion dari Mbak Nur, ini mbak saya di rumah yang sudah 8 tahun setia kerja sama saya. Mata si Mbak Nur yang asalnya dari Desa Bawang di Purwokerto ini seringkali polos dan apa adanya dan justru kepolosan ini yang  sangat membantu kami melihat barang dari ‘sisi lain’ supaya tidak salah mematok harga. 

Pekerjaan ini sederhana tapi punya pembelajaran yang positif untuk kami. 

Harus ada tim work. 

Harus ada sistem. 

Harus dikerjakan dengan serius dan makan waktu yang tidak sebentar. 

Harus sabar dan teliti.

Dan banyak lagi. 

Tapi semuanya sangat  menyenangkan karena ada perasaan bahwa yang kita kerjakan ada manfaatnya untuk orang lain. Ya untuk orang-orang yang mau menyingkirkan barang-barang tidak terpakainya di rumah, atau untuk orang-orang yang nanti membeli dan mendapat menfaat dari si barang. 

It’s fun and it’s fulfilling!


Things That You Own: Either You Need It, Or You Really Like It!

Beberapa teman member dari Jakarta Garage Sale memberi kabar akan menurunkan barang-barang bekas layak pakai mereka untuk ikut dijual di acara 1st Garage Sale tanggal 1 Agustus 2009 di Kalila Resindence. Senang sekali mendapat kabar ini! 

Lalu terbayang oleh saya, teman-teman ini, yang pasti adalah orang-orang sibuk, menyempatkan diri untuk bongkar dan bersih-bersih rumah sambil sortir barang-barang mereka yang pasti tidak sedikit koleksinya disela-sela kesibukan rutin harian mereka. 

Mmmm…. pasti jadi ‘moment’ yang menarik untuk mereka jalankan. Apalagi kalau dikerjakan bersama dengan pasangan, anak, kakak/adik atau siapapun orang terdekat mereka.

Dari pengalaman sendiri, kalau sudah bersih-bersih rumah dan menyortir barang, saya bisa betah seharian mengerjakannya (makanya seringkali acara ini saya kerjakan disalah satu weekend). Kepuasan yang saya rasakan lewat kegiatan sederhana ini lahir bathin. Rumah jadi nyaman untuk yang tinggal di dalamnya. Badan saya ‘semi’ berolahraga karena bongkar-angkut-pindah barang-barang di rumah. Lalu, saya mendapatkan barang-barang bekas yang siap untuk dilepas digarage sale dan barang-barang ini bisa bermanfaat untuk orang lain.

Ada ajaran yang saya dapat dari seorang teman baik (Virginia, may you rest in peace…) tentang barang-barang di rumah, yang selalu saya terapkan dalam proses penyortiran barang pada saat saya membersihkan rumah. 

Waktu itu, teman saya ini main ke rumah saya dan melihat sebuah kursi di rumah yang ‘nangkring’ sendirian di pojok ruang TV saya. 

Mungkin karena posisi dan bentuknya yang sedemikian rupa, mata Virginia melihat kursi ini sebagai barang yang tidak terpakai oleh saya. Lalu dia tanya ke saya apakah kursi itu saya pakai dan saya saya jawab hampir tidak pernah. Lalu dia tanya lagi apakah saya suka kursi itu dan saya jawab tidak terlalu juga karena designnya agak nggak pas dengan saya. Lalu dia berkomentar, “Inge, kalau menurut  feng shui, ini tidak baik.” 

Haaaa???? 

Ternyata teman saya ini, Virginia Irving nama lengkapnya, adalah orang yang menerapkan feng shui dalam hidupnya. Namun, prinsip-prinsip feng shui yang dia terapkan adalah prinsip-prinsip yang sederhana dan praktis yang bisa dipakai oleh siapa saja. 

Oleh Virginia, prinsip-prinsip sederhana yang kebanyakan dia dapatkan dari buku-buku yang dia baca, dia terapkan dalam kesehariannya, di rumah dan di kantor. 

Dari dia saya dapat sebuah pelajaran feng shui sederhana namun sangat mudah dan berguna untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari saya. Ajarannya adalah, “You only keep things if either you need it or you really like it. If not, get rid of the thing. It’s not giving you any good benefit.”Terjemahan sederhananya: jangan simpan barang kalau nggak diperlukan atau nggak benar-benar disukai.”

Ajaran sederhana ini saya terapkan pertama kali pada kursi yang menganggur itu. Ada benarnya sih. 

Setelah kursi itu saya singkirkan, saya jadi punya ruang tambahan di rumah untuk meletakkan rak buku, yang lebih berguna untuk saya yang memang hobi baca dan koleksi buku. Otomatis, karena punya tempat tambahan untuk menyimpan buku, koleksi buku saya bisa bertambah lagi. Dan kegiatan santai saya di ruangan itu jadi  lebih seru rasanya karena semua barang yang saya sukai ada di ruangan itu dan semuanya ada dalam jangkauan tangan saya.

Tahun 1996 ajaran ini saya dapat dari Virginia dan sampai sekarang terus saya pakai dalam kehidupan saya, terutama setiap kali membersihkan rumah dan menyortir barang. 

Barang-barang yang memang diperlukan dalam keseharian, saya simpan dan saya pakai. Barang-barang yang sangat saya sukai, biasanya barang-barang yang punya nilai ‘sentimental’ yang besar untuk saya, hadiah dari Ibu misalnya, saya simpan. Hasilnya, tidak pernah lagi ada barang menumpuk tidak terpakai dan jadi sarang debu dan nyamuk di rumah saya. 

Pada saat melepas barang-barang yang sudah tidak dipakai lagi pun hati terasa ‘ringan’ karena tidak adaemotional attachment terhadap barang-barang ini.

Tip sederhana ini sebenarnya bisa dipakai oleh siapa saja. 

Yang terkadang sulit adalah melawan rasa malas menyortir barang atau rasa sayang terhadap barang. 

Kalau diperhatikan lebih dalam, disini sebenarnya kita juga dilatih untuk  rajin dan memandang hidup tidak hanya dari segi materi. Mudah-mudahan tip sederhana yang saya share ini bermanfaat. 

Untuk teman-teman yang sedang menyortir barangnya, selamat menyortir, have fun!


Garage Sale Juga Untuk Laki-laki

ata siapa hanya perempuan yang suka belanja dan punya banyak barang?

Dirumah saya, koleksi tas suami nggak kalah banyak sama punya perempuan. Ada tas kerja, tas travel, ada tas olah raga, tas kamera, tas computer dan lain-lain. Jenis, warna dan ukurannya macam-macam. 

Sepatu? Jangan ditanya! Ada sepatu santai, sepatu kerja, sepatu olah raga, sepatu khusus naik sepeda dan sebagainya. 

Setiap kali bongkar-bongkar barang di rumah, saya selalu berhasil mengumpulkan 1 kotak besar asesoris computer, HP, camera dan gadget lainnya yang hampir tidak pernah disentuh oleh suami. Dan masih banyak lagi barang lainnya, baju, buku, peralatan hobi, jam tangan, kaca mata, dan seterusnya... 

Semuanya menunggu nasib, mau dipakai lagi atau dibiarkan terbengkalai dilemari atau dilepas ke orang lain yang bisa memanfaatkan.

Garage sale bukan cuma untuk perempuan kok! 

Waktu kecil dulu, setiap kali ibu saya gelar garage sale di garasi rumah, ayah saya selalu ikut heboh. 

Di section barang jualan hasil sortiran ayah saya biasanya ada barang-barang ‘serius’ yang diminati sesama laki-laki, misalnya alat dan asesoris barbeque, tangga lipat, gergaji listrik, lensa kamera, alat pancing, spare part sepeda,golf set dan macam-macam lagi. 

Barang-barang ini nggak kalah seru peminatnya dengan barang-barang rumah tangga yang diminati perempuan. Apalagi karena barang-barang ‘serius’ seperti ini harga barang barunya di toko biasanya lumayan mahal.

Yang kadang bikin saya nggak habis pikir, para lelaki ini seringkali lebih pikir panjang sebelum melepas barang yang dimiliki yang sebenarnya tidak pernah dicari bahkan disentuh. 

Tidak semua laki-laki pastinya, tapi beberapa orang yang saya kenal dekat justru lebih 'sayang' sama barangnya dibandingkan saya yang perempuan. Ambil contoh ayah saya, kalau dulu Ibu saya bertanya, “Baju-baju kamu kok banyak yang nggak pernah dipakai ya? Kalau memang sudah tidak dipakai, di’lungsur’kan saja." Alasan ayah saya selalu sama, baju-baju yang kekecilan itu disimpan untuk dipakai lagi kalau ukuran pinggangnya sudah kembali kecil lagi. 

Niatnya sih baik, tapi mengharapkan ukuran pinggang mengecil 4 nomor agak nggak realistis ya? Kalaupun akhirnya berhasil, biasanya tercapai setelah beberapa lama dan pada waktu itu baju-baju yang dia simpan sudah out of date, jadi tetap saja harus beli koleksi baju baru. 

Ayo mari, Bapak/Oom/Mas …. 

Ikut sortir barang dan dijual di acara 1st Garage Sale tanggal 1 Agustus 2009! 

Banyak lho orang yang bisa memanfaatkan barang-barang yang sudah tidak kita pakai! 

Yuk, kita gabung dan have fun dengan garage sale yang sebenarnya di Jakarta Garage Sale.  

Semangat Jual Barang Lewat Garage Sale

Hari ini 2 member Jakarta Garage Sale datang ke hub mengantar 2 tas berisi besar barang2 bekas layak pakai untuk jual diacara 1st Garage Sale tanggal 1 Agustus 2009 di Kalila Residence, Jakarta.

2 jam kita bareng2 bongkar dan menyortir ulang barang2 yang dibawa. Barang diperiksa kondisinya satu per satu dan ditaksir harga jualnya. 

Prosesnya berjalan cepat dan lancar karena pada intinya, pemilik dan penyelenggara punya prinsip yang sama, yaitu barang jangan dijual mahal supaya laku karena barang memang sudah nggak bisa dipakai lagi sama pemilik dan supaya barang bermanfaat buat orang lain.  

Waktu ditanya kenapa barang-barang ini dijual, si member yang dua-duanya masih mahasiswa ini, menjawab, “Soalnya baju-bajunya sudah kekecilan dan lumayan kalau memang terjual di garage sale uang hasil jualannya nanti bisa untuk nambahin uang saku.” 

Sah banget! 

Saya malah senang sekali melihat semangat dan prinsip mereka (jauh lebih baik daripada merengek minta uang saku tambahan ke orang tua, kan?!?!?)

Yuk, kita gabung dan have fun dengan garage sale yang sebenarnya di Jakarta Garage Sale 


A Garage Sale

Menurut kamus, "garage sale" adalah "a sale of used household goods in the driveway or garage of someone's home", atau kalau dalam bahasa Indonesia yang sederhana "jual murah barang2 rumah tangga dirumah".

Beberapa kali sempat berkunjung ke "garage sale" di Jakarta yang malah ternyata lebih pas disebut bazaar. 

Soalnya lebih banyak menjual barang baru atau barang bekas yang harganya nggak jauh beda dg harga di toko. 

Padahal pengalaman dari kecil, setiap kali berkunjung ke garage sale bersama Ibu dan Kakak, bagian teras/garasi yang punya rumah selalu dipenuhi dengan tumpukan dan jejeran barang-barang rumah. Ada yang baru banget karena nggak pernah sempat dipakai, ada barang yang sudah pernah dipakai tapi kondisinya masih bagus banget seperti baru, dan ada barang yang sudah bekas sering dipakai tapi masih berfungsi dengan baik. 

Rasanya seperti berburu harta karun!

Waktu kecil dulu, saya hidup di kompleks perumahan sebuah perusahaan minyak yang ‘penduduknya’ tidak terlalu banyak, banyak orang asingnya, satu sama lain saling kenal dan kegiatan bersama adalah kegiatan-kegiatan sederhana yang menyenangkan dan bisa melibatkan siapa saja, mulai dari barbeque, camping di halaman rumah, Halloween Party, Takbiran dan banyak lagi dan tentunya juga garage sale. 

Kegiatan garage sale ini tidak hanya jadi ajang jual-beli barang bekas, tapi juga jadi tempat sosialisasi yang menyenangkan karena digelar outdoor dan suasananya santai.

Jujur, ilmu dan pengalaman tentang garage sale ini memang didapat pertama kali dari tetangga lama kita yang asalnya dari Texas, A.S. 

Waktu itu, Mrs. Matthew namanya, 1 kali setahun selalu membersihkan rumahnya dari ujung ke ujung (they call it “Spring Cleaning”). 

Semua barang disortir dan bam!… terjadilah sebuah garage sale dihalaman depan rumahnya. Berbagai macam barang, dari mulai piring makan sampai perabotan besar yang sudah sudah tidak dipakai, dijajarkan dan ditumpuk rapi dihalaman dan garasi rumahnya. 

Tidak pakai stand yang cantik, tidak pakai gimmic-gimmic jualan yang ribet. 

Kondisi dan harga murah barang-barang bekas pakainya 'berbicara' sendiri ke semua yang datang. 

And basically, its open for anyone!

Satu hal yang selalu sama dari setiap garage sale yang pernah dikunjungi, aturan jual-belinya sederhana, yaitu "cash and carry". 

Jadi, waktu kecil dulu, saya datang ke garage sale tetangga dengan modal Rp. 10.000 (yang disisihkan dari uang saku sendiri), sedangkan ibu saya dan tante-tante (teman ibu saya) datang dengan uang 'cash" ditangan yang agak banyak supaya bisa borong atau beli barang 'besar' dan 'serius'. 

Alasan orang bikin garage sale biasanya memang karena pembersihan rumah besar-besaran atau orang barat menyebutnya “spring cleaning”.

Atau, bisa juga karena mau pindah rumah. Apapun alasannya, intinya hanya satu, barang-barang yang dijual harus dalam kondisi layak pakai dan harganya murah abiissss.

Sampai dewasa sekarang, kebiasaan gelar dan datang ke garage sale sudah jadi kebiasaan tetap. 

It’s just so fun! 

Seringkali saya geleng-geleng kepala sendiri pada saat membersihkan rumah dari ujung ke ujung karena baru sadar betapa banyaknya barang yang sudah terlupakan dan tidak pernah dipakai lagi. 

Sejak awal hidup mandiri, kebiasaan gelar garage sale ini bisa dibilang hampir selalu dijalankan walaupun waktunya tidak tetap. 

Setelah sudah punya 2 anak, kebiasaan ini masih terus dijalankan dan suami serta anak-anak selalu dilibatkan. 

Kalau saya kebagian sortir rumah dari garasi sampai loteng, 2 anak saya kebagian sortir mainan dan buku mereka. Suami juga sama, harus bongkar dan sortir barang-barangnya sendiri. 

Dan berdasarkan pengalaman, menjalankan proses kegiatan garage sale yang sebenarnya memberikan banyak kesan, pengalaman serta prinsip positif dalam hidup. Nggak cuma untuk diri sendiri, tapi juga untuk pasangan, anak-anak, keluarga, saudara, teman dekat, tetangga dan lain-lain.

Yuk, kita gabung dan have fun dengan garage sale yang sebenarnya di Jakarta Garage Sale. 

Untuk yang ingin berpartisipasi menjual barang bekasnya yang layak pakai dan layak jual, gabung saja di grup FB Jakarta Garage Sale. Ayo partisipasi diacara-acara garage sale berikutnya. Informasi lengkap seputar titip jual barang dan acara garage sale –nya sendiri akan selalu di-share melalui grup. Siapa saja boleh gabung. Spread the words... 

Jakarta Garage Sale on FB: http://www.facebook.com/group.php?gid=109798801843