Thursday, October 4, 2012

My garage sale, my joy and my lesson


Pernah baca buku “My Life In France” dari Julia Child, wanita unik yang kisah hidupnya diangkat menjadi sebuah film berjudul “Julie & Julia”?

Ada satu kalimat dalam bukunya yang menyentuh batin saya. “It was through daily excursions to my local marketplace on la Rue de Bourgogne, or to the bigger one on la Rue Cler, or, best of all, into the organized chaos of Le Hales-the famous marketplace in central Paris-that I (read: Julia) learned one of the most important lessons of my life: the value of les human relations”.

Ini salah satu alasan saya menyukai wanita yang unik ini.

Dan kurang-lebih, rasa yang ia gambarkan itulah yang saya rasakan terhadap garage sale yang saya gelar lewat Jakarta Garage Sale.

Di tengah kehidupan kota Jakarta, yang serba cepat dan serba berkompetisi, ditambah lagi dengan  kemajuan tekhnologi komunikasi yang masih akan terus berevolusi, saya merasakan dan melihat banyak perubahan dalam cara manusia berkomunikasi, berinteraksi dan bersosialisasi.

Values berubah.

Etika bergeser.

Cara berganti.

Semakin lama semakin banyak hal sederhana dalam kehidupan manusia sebagai makhluk hidup, yang punya rasa dan akal, yang berubah menjadi rumit karena perasaan dan pikiran manusia yang terbawa rumit bersama dengan semua kesibukan, tuntutan hidup serta kemajuan tekonologi.

Semakin banyak hal yang tadinya dianggap ‘tidak baik’ dan ‘tidak pada tempatnya’, sekarang menjadi lumrah dan umum. Dan sebaliknya.

Banyak hal yang menjadi serba ‘instant’ dengan sedikit sekali rasa tenggang-rasa, apresasi dan toleransi.

Kehidupan mulai terbagi dua bagi banyak orang. Kehidupan di dunia nyata, umumnya: rumah, keluarga teman dan pekerjaan. Serta kehidupan di dunia maya, dimana akhirnya banyak yang menjadi sebuah ‘panggung’ yang memang seringkali lebih mengasyikkan dibandingkan dunia nyata karena banyak hal yang menjadi possible, can and heard.

Akhirnya, banyak orang yang menjadi terlalu sibuk untuk lagi memperhatikan values of human relations,sebagaimana dulu waktu hidup kita masih sederhana; hidup hanya dihibur dengan televisi dan radio dengan program2 hiburan sederhana, telepon rumah dan alat teknologi2 sederhana yang fungsinya adalah untuk membantu kehidupan manusia.

Adalah lewat sebuah kegiatan sederhana garage sale saya terus mengingatkan diri untuk bercermin dan belajar, untuk menjadi manusia yang punya rasa dan akal dan menghargai basic values of human relations.

Dalam sebuah rangkaian kegiatan garage sale, mau tidak mau saya harus meluangkan waktu untuk berinteraksi langsung dengan orang-orang yang punya minat sama dengan saya.  Dari mulai kawan lama ataupun baru yang mau ikut serta menjual barang, sampai mereka yang datang ke acara garage sale untuk membeli barang-barang yang mereka butuhkan.

Untuk setiap kawan yang saya temui lewat kegiatan garage sale, saya harus genuinely membuka diri. Tanpa agenda, tanpa asumsi.

Dalam sebuah rangkaian kegiatan garage sale, saya terus diminta untuk terus belajar meng-apresiasi dan toleransi. Terhadap orang yang baru saya kenal sekalipun. Minat, tenaga dan waktu yang diluangkan untuk sebuah kegiatan garage sale patut dihargai.

Dan semua hal mendasar ini harus banyak saya lakukan dengan hati.

Kalau tidak, garage sale yang saya gelar pasti hambar rasanya. Paling tidak untuk saya sendiri.

Persis seperti yang dirasakan oleh Julia Child. Lewat kegiatan sederhana berbelanja di pasar, ia mendapatkan pelajaran values of human relations yang sangat mendalam, yaitu menghargai dan mengenal setiap penjual daging, ikan dlsb. Berteman, bertatap muka, menyapa, berkomunikasi dengan hati. Hasilnya? Menurut pengakuannya, ini salah satu unsur yang membuat  masakannya terasa istimewa!

Yang saya alami setelah 3 kali menggelar kegiatan garage sale?

Rasanya seperti me-recharge dan melatih diri sendiri.

Membuat diri untuk selalu kembali ke basics of human relations. 

Dan akhirnya setiap kegiatan garage sale dapat menjadi kucuran air segar di batin saya, yang seperti juga jutaan penduduk Jakarta lainnya, seringkali tanpa sadar terperangkap dalam tuntutan dan kesibukan kehidupan Jakarta.

4.000 barang bekas rumah tangga siap jual di garage sale JGS. Mari melihat …


Dari hasil Jakarta Garage Sale (JGS) menyortir barang-barang rumah tangga bekas selama 1 bulan, terkumpul hampir 4.000 barang rumah tangga bekas yang jenisnya bermacam-macam dan semuanya dalam kondisinya layak pakai, bahkan banyak barang yang belum pernah dipakai oleh pemiliknya.

Untuk saya, jumlah 4.000 barang rumah tangga bekas bukanlah jumlah yang sedikit. Dan jumlah ini membuat saya berpikir.

Disela-sela kesibukan kita sehari-hari, coba luangkan waktu sebentar melihat isi rumah kita.

Pastinya ada banyak jenis barang di dalamnya!

Menurut wikipedia, yang termasuk barang rumah tangga adalah segala macam jenis barang dan produk yang digunakan di rumah tangga, yang sifat bendanya bisa dipegang dan bisa dipindah. Benda-benda ini digunakan untuk keperluan pribadi dan ditempatkan serta digunakan diseluruh area rumah pribadi.

Jenisnya bermacam-macam. Mengutip contoh barang rumah tangga dari wikipedia, antara lain :pendingin ruangan (AC), barang-barang bayi, peralatan masak, peralatan dapur (kulkas, blender, coffee maker, dll), tempat tidur dan perlengkapannya (matras, selimut, bantal, sprei, dll), handuk, perabotan rumah tangga (kursi, lemari, meja, dll), alat elektronik (komputer, TV, stereo set, dll), decorative items (korden, lampu, karpet, cermin, dll), peralatan kebun, mainan, baju, sepatu, tas, buku, dll.

Nah … coba lihat lagi benar-benar barang-barang rumah tangga yang ada di rumah kita …

Biasanya akan ‘terlihat’ oleh kita : ada barang rumah tangga yang banyak/sering dipakai dan ada juga barang rumah tangga yang sudah tidak dipakai lagi, bahkan sudah tidak disentuh lagi dan hanya menghabiskan ‘waktunya’ di dalam kotak/lemari/gudang.  

Dan biasanya, jumlah kedua jenis barang ini tidak sedikit di dalam satu rumah tangga.

Kemarin saya baru saja selesai membaca Majalah National Geographic edisi special “Detak Bumi – Bumi Kita Kini 2010” (a highly recommended reading material). Ada banyak pernyataan di dalamnya yang membuat saya merinding: saya kutip salah satunya: “Walau disertai kecemasan ekonomi, kita telah menjadi sebuah dunia konsumen yang saling terhubung di zaman yang penuh perubahan”.

Lalu, pernyataan lainnya, saya kutip lagi, “Perdagangan global membawa hasrat di seluruh dunia ke tingkat yang baru. Ada lebih banyak orang dengan lebih banyak uang yang mencari jalan untuk lebih banyak mengkonsumsi hampir semua hal. Mulai dari makanan berbasis biji-bijian sampai ikan dan daging. Mulai dari barang produksi lokal hingga yang bermerek internasional. Mulai dari pemenuhan kebutuhan sederhana hingga aspirasi material nan megah. Singkatnya, dunia kita terajut oleh ikatan perdagangan dan konsumsi yang baru”.

Pernyataan ini sedikit banyak pasti tercermin di rumah kita masing-masing.

Sekarang, ayo kita lihat lagi apa yang ada dibelakang barang-barang rumah tangga yang kita pakai ataupun yang kita biarkan menganggur tersimpan di rumah kita?

Kembali saya diingatkan lewat artikel Majalah National Geographic yang baru saya baca, bahwa banyak sekali bahan mentah dan energi alami bumi yang digunakan untuk memproduksi barang-barang rumah tangga.  Dan kita semua tahu, dengan semua pembicaraan seputar Global Warming yang beberapa tahun kebelakang menjadi perhatian banyak orang, bahwa  eksploitasi bahan mentah dan energi bumi alami ini menjadi ancaman kerusakan bagi bumi kita.

Ini bukan masalah baru. Bahkan para produsen barang sudah banyak yang mencari akal untuk mengganti atau mengurangi bahan mentah dan energi alami bumi yang mereka pakai dalam proses produksi barang. Tapi konsekuensi dari bertahun-tahun dilakukannya eksploitasi bahan mentah dan energi alami sudah terlanjur terjadi. Jutaan pohon sudah hilang, persediaan minyak bumi semakin sulit dicari, dan banyak lagi.

Lalu bagaimana dengan kita sendiri? Yang menjadi pembeli, pemilik dan pengguna barang?

Saya tidak punya pabrik. Saya tidak punya brand. Saya tidak punya toko. Saya adalah satu dari sekian banyaknya pembeli, pemilik dan pengguna barang rumah tangga di dunia. Ayo kita lihat ….

Walaupun menurut Wikipedia jumlah sampah rumah tangga memakan porsi kecil dalam keseluruhan sampah, bukan berarti masalah ini tidak perlu kita perhatikan, apalagi kita adalah ‘pelaku’ di dunia rumah tangga.

Bayangkan : ada lebih dari 6 milliar orang yang hidup di bumi.

Artinya ada berapa banyak rumah tangga?

Artinya ada berapa banyak barang rumah tangga?

Artinya ada berapa banyak barang rumah tangga tidak terpakai?

(Do the math, please ….)

Barang-barang rumah tangga yang tidak terpakai ini, yang pada awal kita simpan di lemari/gudang masih dalam kondisi baik, karena terlalu lama disimpan akhirnya malah menjadi rusak  dan bahkan tidak dapat berfungsi lagi.

Akhirnya barang-barang ini jadi apa?

Saya pinjam istilah yang biasa digunakan oleh tukang pulung sampah: barang-barang ini berubah menjadi “rongsokan”.

Sungguh sayang. Sungguh egois.

Kalau saja barang-barang rumah tangga yang tidak terpakai ini kita alih-tangan-kan tepat pada waktunya, pastinya barang-barang ini akan melanjutnya ‘fungsinya’ sebagai barang rumah tangga yang berguna dalam kehidupan manusia (walaupun orang lain yang tidak kita kenal sekalipun).

Dan bukankah pengalihtanganan ini sama dengan pemakaian ulang sebuah barang rumah tangga, yang bermanfaat bagi lingkungan seperti halnya kegiatan daur ulang sampah?

4.000 barang rumah tangga bekas yang sekarang disimpan dalam gudang JGS, yang berasal hanya dari 38 orang member JGS yang ikut berpartisipasi menitipkan barangnya, siap untuk dijual diacara garage sale dan dialih-tangankan.  

4.000 barang rumah tangga bekas ini siap untuk dipakai ulang oleh pemilik barunya (yang mudah-mudahan, pada waktunya nanti, juga bersedia untuk mengalihtangankan kembali ‘si’ barang kepada pemilik generasi ketiga dan seterusnya (bila memang ‘si’ barang bertahan fungsi dan kondisinya)).

Barang-barang rumah tangga bekas yang akan dijual diacara garage sale JGS tidak jual karena sudah ‘rongsok’. Melainkan dijual karena pemiliknya sadar penuh bahwa barang-barang ini sudah tidak dapat mereka pakai lagi dan bisa lebih bermanfaat untuk pemilik barunya.

Memang, acara garage sale yang digelar JGS tidak bisa mengurangi tingkat konsumsi dunia.

Tidak juga mengurangi jumlah bahan mentah dan energi alami bumi yang dipakai dalam proses produksi barang rumah tangga di dunia.

Tapi paling tidak, kita sama-sama melakukan sebuah tindakan kecil untuk bumi kita.

Bayangkan, kalau 2000 lebih member JGS  yang sudah bergabung dalam group meng-alihtangankan 100 buah saja barang rumah tangganya yang sudah tidak lagi dipakai.

Artinya ada berapa banyak barang rumah tangga bekas yang akan dipakai ulang?

Artinya ada berapa rumah tangga baru yang akan merasakan manfaat si barang rumah tangga bekas tersebut?

Dan seterusnya … 

(Do the math again, please ….)

A little spoonful of life


I decided to say goodbye to my carrier 4 months ago. Hasn’t been that long, but it was worthy and I don’t regret what I did.

Waktu akhirnya memutuskan mundur dari karir yang sudah saya tekuni selama 16 tahun, bertubi-tubi pertanyaan datang dari kolega dan teman: “kenapa?”, “yakin?”, “bisa?”, “mau ngapain di rumah?”, dst… 

Don’t know the answers to the questions, honestly. 

Yang saya tahu, I just had this gut feel to stop and open a new chapter in my life. Apa dan bagaimana bentuknya, not sure. Dalam hati kecil hanya ada perasaan, “there’s got to be more than life than this (read: work)”.

Juli 2009 saya mulai ‘hidup’ total di rumah, being a wife, a mom and myself : just a plain human being with what I have in front of me.

Biasa menghabiskan waktu di kantor, bersosialisasi dengan kolega dan teman, awalnya saya merasa ‘asing’ di rumah sendiri. Owwww … betapa awalnya saya ‘kangen’ dengan suasana ‘child’s- chaos-proof’ di kantor. Betapa saya ‘kangen’ dengan suasana ‘break’ dengan teman ditengah2 kesibukan pekerjaan. Betapa saya kehilangan suasana ngobrol dan diskusi secara intelek. I was in dilemma!

But I decided to continue anyway and search for a life that is fulfilling for me from home.

Di luar semua rasa kangen, ada banyak perasaan baru yang timbul.

Salah satunya : sebelum menjadi stay-home person, tidak pernah benar2 saya rasakan sebelumnya betapa manusia diberi begitu banyak waktu untuk menjalankan hidup dalam 1 harinya. Selama bekerja, perasaan yang selalu saya rasakan adalah: so many things to do and so little time. Dan tanpa saya sadari, setelah bertahun-tahun dijalankan, work has taken over most of my life (and apparently also my heart and soul).

Tidak pernah juga benar2 saya rasakan, betapa banyak ‘life management’ yang harus di-handle untuk diri sendiri, suami, anak, keluarga and others. And when I say ‘life management’, I’m saying physically, mentally and spiritually. 

Sekarang saya menata diri ulang dan belajar lebih dalam lagi tentang ‘life management’ : a full time job with plenty of hard works! (and no cuti …J)

Setelah 1 bulan full-time di rumah, disela2 rutinitas standar harian di rumah yang sudah berjalan, akhirnya saya putuskan untuk memberi diri saya sendiri kesibukan tambahan untuk mengisi waktu. Saya putuskan untuk mengadakan garage sale (salah satu hobby saya dari dulu …)

Rencana awal adalah untuk menggelar garage sale biasa seperti yang biasa saya gelar sebelum2nya. Tapi akhirnya semuanya malah berkembang. 

1 garage sale yang 'tidak biasa-biasa saja' berhasil saya gelar di bulan Agustus lalu dan ternyata proses serta hasilnya memberi saya kepuasan lahir dan batin! 

Jauh lebih puas dibandingkan EBITDA positif yang berhasil saya raih untuk perusahaan selama saya bekerja dulu. Jauh lebih menyenangkan dibandingkan album rekaman yang berhasil saya jual ratusan ribu kopi di Indonesia yang penuh dengan persaingan dan bajakan. Jauh lebih menyenangkan dibandingkan sebuah pagelaran konser yang biasanya memakan 90% waktu, tenaga dan pikiran saya.

Lewat garage sale, saya bertemu teman2 lama yang sudah lama hilang dari hidup saya.

Punya teman2 baru.

Memberi manfaat bagi orang lain.

Punya kegiatan tambahan yang menyenangkan yang bisa dikerjakan di rumah.

That is just to name a few…

All of it sure added color and flavor my heart and my soul, thus my life.

Sampai sekarang, masih banyak teman2 yang menanyakan kesibukan saya dan menawarkan kerja atau project, yang kalau tawaran itu dilempar ke saya 4 bulan lalu, pasti saya ambil dengan semangat menggebu-gebu. Semuanya saya tolak. Banyak yang bingung dengan pilihan saya untuk tetap fokus di rumah dan hanya menambah kesibukan dengan mengurusi barang2 bekas orang lain lewat garage sale.

 This is why …

My garage sale is my conscience. 

It reminds me that “life indeed can be fun if you really want to” (“Life” by Des’ree) - a phrase that can easily slipped our heart and mind in the mist of our hectic and ‘full-of-pressure and target’ life. Padahal, to have fun in life is simple. Kita sendiri yang seringkali membuatnya complicated.  Most of time, we are so busy and focus on the things we wanted in life and didn’t get. Padahal, life can be so much fun if we just accept what we have in front of us and have the desire to celebrate it.

Through my garage sale I’ve learnt that something meaningless can be rich and fulfilling, as long as it is yours to have and cherish.

Through my garage sale, I continue to let my self learn to do even the smallest task in my daily life whole-heartedly, with a dash of passion, devotion, commitment and discipline (yes, I do and love yoga and learnt this through yoga too).

In short, doing garage sale helps my conscience a lot!

And even though I am now living an ordinary life at home (which i realize that is just so boring for some people), I am happy with the little spoonful of life that I have!

It's mine and it’s up to me to add color and flavor to it! Yum …

A Garage Sale


enurut kamus, "garage sale" adalah "a sale of used household goods in the driveway or garage of someone's home", atau kalau dalam bahasa Indonesia yang sederhana "jual murah barang2 rumah tangga dirumah".


Beberapa kali sempat berkunjung ke "garage sale" di Jakarta yang malah ternyata lebih pas disebut bazaar. Soalnya lebih banyak menjual barang baru atau barang bekas yang harganya nggak jauh beda dg harga di toko (second hand on sale).


Padahal pengalaman dari kecil, setiap kali berkunjung ke garage sale bersama Ibu dan Kakak, bagian teras/garasi yang punya rumah selalu dipenuhi dengan tumpukan dan jejeran barang-barang rumah. 


Ada yang baru banget karena nggak pernah sempat dipakai, ada barang yang sudah pernah dipakai tapi kondisinya masih bagus banget seperti baru, dan ada barang yang sudah bekas sering dipakai tapi masih berfungsi dengan baik. 


Rasanya seperti berburu harta karun!


Waktu kecil dulu, saya hidup di kompleks perumahan sebuah perusahaan minyak yang ‘penduduknya’ tidak terlalu banyak, banyak orang asingnya, satu sama lain saling kenal dan kegiatan bersama adalah kegiatan-kegiatan sederhana yang menyenangkan dan bisa melibatkan siapa saja, mulai dari barbeque, camping di halaman rumah, Halloween Party, Takbiran dan banyak lagi dan tentunya juga garage sale. 


Kegiatan garage sale ini tidak hanya jadi ajang jual-beli barang bekas, tapi juga jadi tempat sosialisasi yang menyenangkan karena digelar outdoor dan suasananya santai.


Jujur, ilmu dan pengalaman tentang garage sale ini memang didapat pertama kali dari tetangga lama kita yang asalnya dari Dallas, A.S. Waktu itu, Mrs. Matthew namanya, 1 kali setahun selalu membersihkan rumahnya dari ujung ke ujung (they call it “Spring Cleaning”). 


Semua barang disortir dan bam!… terjadilah sebuah garage sale dihalaman depan rumahnya. Berbagai macam barang, dari mulai piring makan sampai perabotan besar yang sudah sudah tidak dipakai, dijajarkan dan ditumpuk rapi dihalaman dan garasi rumahnya. 


Tidak pakai stand yang cantik, tidak pakai gimmic-gimmic jualan yang ribet. 


Kondisi dan harga murah barang-barang bekas pakainya 'berbicara' sendiri ke semua yang datang. 


And basically, its open for anyone!


Satu hal yang selalu sama dari setiap garage sale yang pernah dikunjungi, aturan jual-belinya sederhana, yaitu "cash and carry". 


Jadi, waktu kecil dulu, saya datang ke garage sale tetangga dengan modal Rp. 10.000 (yang disisihkan dari uang saku sendiri), sedangkan ibu saya dan tante-tante (teman ibu saya) datang dengan uang 'cash" ditangan yang agak banyak supaya bisa borong atau beli barang 'besar' dan 'serius'. 


Alasan orang bikin garage sale biasanya memang karena pembersihan rumah besar-besaran atau orang barat menyebutnya “spring cleaning”.


Atau, bisa juga karena mau pindah rumah. Apapun alasannya, intinya hanya satu, barang-barang yang dijual harus dalam kondisi layak pakai dan harganya murah abiissss.


Sampai dewasa sekarang, kebiasaan gelar dan datang ke garage sale sudah jadi kebiasaan tetap. 


It’s just so fun! 


Seringkali saya geleng-geleng kepala sendiri pada saat membersihkan rumah dari ujung ke ujung karena baru sadar betapa banyaknya barang yang sudah terlupakan dan tidak pernah dipakai lagi. 


Sejak awal hidup mandiri, kebiasaan gelar garage sale ini bisa dibilang hampir selalu dijalankan walaupun waktunya tidak tetap. 


Setelah sudah punya 2 anak, kebiasaan ini masih terus dijalankan dan suami serta anak-anak selalu dilibatkan. 


Kalau saya kebagian sortir rumah dari garasi sampai loteng, 2 anak saya kebagian sortir mainan dan buku mereka. Suami juga sama, harus bongkar dan sortir barang-barangnya sendiri. 


Dan berdasarkan pengalaman, menjalankan proses kegiatan garage sale yang sebenarnya memberikan banyak kesan, pengalaman serta prinsip positif dalam hidup. Nggak cuma untuk diri sendiri, tapi juga untuk pasangan, anak-anak, keluarga, saudara, teman dekat, tetangga dan lain-lain.

Thursday, July 30, 2009

A Bowl of Cherries

7 hari menjelang acara 1st Garage Sale

 

Barang-barang bekas dari 26 member Jakarta Garage Sale sudah menumpuk rapi di garasi dan patio rumah. Semua sudah dibersihkan, sudah ditempel label harga dan sudah siap jual.

 

Mulai saya berpikir, “Apa ya yang belum saya siapkan?”

 

Bertahun-tahun berkutat dibidang konser dan festival musik, dari mulai konser tunggal artis Indonesia dan internasional sampai festival musik skala internasional, kebiasan ribet memikirkan dan mengurus segala tetek-bengek menjelang event sudah menyatu didarah dan susah untuk dihilangkan.

 

Saya sampai harus berkali-kali mengingatkan diri saya sendiri kalau garage sale ini adalah acara sederhana di rumah. “Nggak boleh dibikin ribet seperti konser musik!”

 

Tapi memang old habits die hard, saya nggak bisa berhenti berpikir sendiri, “Apalagi yang kurang? Apalagi yang belum?” Dst …

 

Biasanya, kalau sebelum event musik besar saya merasa santai dan nggak jumpalitan, saya malah jadi deg-deg-an.

 

“Aneh! Mau event kok santai? Pasti ada yang lupa nih …?!?!? “ 

 

Dan biasanya, kalau santai didepan, pas eventnya malah nggak karuan repotnya. Sebaliknya, kalau pas persiapan sibuknya amit-amit (sampai nggak sempet makan dan tidur), pas event biasanya malah bisa sedikit santai. (Memang pepatah lama itu nggak bohong ya?!?!? Ingat kan, pepatah lama: “Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”?)

 

Menjelang acara garage sale tanggal 1 Agustus yang tinggal beberapa hari lagi ini, mulai saya menghayal. Saya nggak pengen santai-santai didepan dan pas acara nanti saya ribet karena nggak bersiap-siap dengan baik. (Knock on wood !!!)

 

Jadi, seperti kebiasaan saya kalau mengerjakan sebuah event konser atau festival musik, semua saya bayangkan: mulai dari orang datang-masuk-keluar, lay out tempat, sistem pengelompokkan barang, display barang, sistem kerja kasir, jam set-up sampai ATK apa yang diperlukan dimeja kasir nantinya. (Per hari ini saya sudah mendata: 4 kalkulator, 2 buku catatan besar, 4 buku notes kecil, lots of pen, steppler dan isinya,and the list goes on…)

 

Banyak ternyata ‘printilan’ kecil yang harus saya pikirkan dan siapkan dan kerjakan.

 

Satu pelajaran yang saya ambil dari pengerjaan acara garage sale kali ini: mau event besar di venue spektakuler, ataupun ‘event’ kecil dirumah sendiri, sama-sama perlu kerja keras, konsentrasi, waktu dan tenaga yang nggak sedikit. Ribetnya sama, kalau kita memang mau mendapatkan hasil yang baik. (Again, no pain – no gain!)

 

Tapi, sesibuk apapun megurus acara garage sale ini, ada sensasi yang sama sekali berbeda yang saya rasakan selama mengerjakan persiapan “event” kecil di rumah ini!

 

Karena dikerjakan dengan ‘hati’ dan “passion”, semua pekerjaan rasanya menyenangkan. (Per hari ini, perasaan saya masih belum berubah!)

 

Ditambah lagi karena saya bisa mengerjakannya full-time di rumah, sambil terus mengerjakan kegiatan rutin harian saya.

 

Ditambah lagi karena seluruh keluarga terlibat, termasuk kedua anak saya yang umurnya 3 dan 8 tahun.

 

Ditambah lagi karena lewat acara ini saya dapat banyak teman baru dan jadi berhubungan lagi dengan teman-teman lama yang sudah lama ‘menghilang’ dari hidup saya.

 

Ditambah lagi dengan membayangkan muka-muka pembeli barang yang nanti mendapat barang bermanfaat murah.

 

Semuanya, diaduk jadi satu, rasanya sangat menyenangkan!

 

Well at least for me, it’s a true fun and fulfilling experience! 


It’s really rewarding! 


(Persis seperti kalau kita bikin kue sendiri yang nggak bantat dan enak rasanya…)

 

Tumpukan rapi barang-barang bekas di rumah saya menjadi ‘monumen’accomplishment untuk saya. (Walaupun gara-gara tumpukan barang-barang ini, mobil saya nggak cukup lagi masuk garasi dan patio untuk sementara nggak bisa kami pakai untuk duduk-duduk santai).

 

Kalau ada orang bijak yang bilang, “Life is a bowl of cherries”, saya juga bilang kepada diri saya sendiri, “This garage sale is like a bowl of cherries”.

 

Semangkuk ceri, sensasinya rame! Ada yang asem, ada yang manis banget, ada yang lembut banget, ada yang hambar, ada yang hampir busuk! Setiap butir ceri dalam semangkuk ceri punya ‘cerita’nya sendiri-sendiri.

 

But overall, it’s full of good taste!

 

It makes you feel good eating it.

 

Its fulfilling!

 

It’s simple yet wonderful.

 

(Hey … am not promoting cherries. I just love them a lot!)

 

Untuk saya, hari demi hari mengurus persiapan acara garage sale rasanya sama dengan menghabiskan semangkuk ceri.

 

It brings happiness to me, simply just by taking my time to enjoy it one by one. 


Bit by bit and step by step.

 

Disela-sela kesibukan persiapan menjelang acara (besok pagi saya sudah bertekad untuk mengecat kain sendiri untuk membuat spanduk acara a-la ‘home made’…) dan kegiatan rutin sehari-hari dirumah, saya terus berdoa, “Mudah-mudahan  apa yang saya kerjakan ini membawa manfaat untuk banyak orang dan mudah-mudahan acara minggu depan bisa lancar dan menyenangkan untuk semua”.

 

Am really hoping, next week, selama acara garage sale, Kalila Residence bisa menjelma menjadi “a bowl of cherries” untuk banyak orang.

 

Imagine …

 

Akan ada bermacam-macam orang.

 

Akan ada bermacam-macam barang.

 

Akan ada bermacam-macam pengalaman.


Akan ada bermacam-macam kejadian dan cerita. 


Dan akan ada bermacam-macam kenangan.