Pernah baca buku “My Life In France” dari Julia Child, wanita unik yang kisah hidupnya diangkat menjadi sebuah film berjudul “Julie & Julia”?
Ada satu kalimat dalam bukunya yang menyentuh batin saya. “It was through daily excursions to my local marketplace on la Rue de Bourgogne, or to the bigger one on la Rue Cler, or, best of all, into the organized chaos of Le Hales-the famous marketplace in central Paris-that I (read: Julia) learned one of the most important lessons of my life: the value of les human relations”.
Ini salah satu alasan saya menyukai wanita yang unik ini.
Dan kurang-lebih, rasa yang ia gambarkan itulah yang saya rasakan terhadap garage sale yang saya gelar lewat Jakarta Garage Sale.
Di tengah kehidupan kota Jakarta, yang serba cepat dan serba berkompetisi, ditambah lagi dengan kemajuan tekhnologi komunikasi yang masih akan terus berevolusi, saya merasakan dan melihat banyak perubahan dalam cara manusia berkomunikasi, berinteraksi dan bersosialisasi.
Values berubah.
Etika bergeser.
Cara berganti.
Semakin lama semakin banyak hal sederhana dalam kehidupan manusia sebagai makhluk hidup, yang punya rasa dan akal, yang berubah menjadi rumit karena perasaan dan pikiran manusia yang terbawa rumit bersama dengan semua kesibukan, tuntutan hidup serta kemajuan tekonologi.
Semakin banyak hal yang tadinya dianggap ‘tidak baik’ dan ‘tidak pada tempatnya’, sekarang menjadi lumrah dan umum. Dan sebaliknya.
Banyak hal yang menjadi serba ‘instant’ dengan sedikit sekali rasa tenggang-rasa, apresasi dan toleransi.
Kehidupan mulai terbagi dua bagi banyak orang. Kehidupan di dunia nyata, umumnya: rumah, keluarga teman dan pekerjaan. Serta kehidupan di dunia maya, dimana akhirnya banyak yang menjadi sebuah ‘panggung’ yang memang seringkali lebih mengasyikkan dibandingkan dunia nyata karena banyak hal yang menjadi possible, can and heard.
Akhirnya, banyak orang yang menjadi terlalu sibuk untuk lagi memperhatikan values of human relations,sebagaimana dulu waktu hidup kita masih sederhana; hidup hanya dihibur dengan televisi dan radio dengan program2 hiburan sederhana, telepon rumah dan alat teknologi2 sederhana yang fungsinya adalah untuk membantu kehidupan manusia.
Adalah lewat sebuah kegiatan sederhana garage sale saya terus mengingatkan diri untuk bercermin dan belajar, untuk menjadi manusia yang punya rasa dan akal dan menghargai basic values of human relations.
Dalam sebuah rangkaian kegiatan garage sale, mau tidak mau saya harus meluangkan waktu untuk berinteraksi langsung dengan orang-orang yang punya minat sama dengan saya. Dari mulai kawan lama ataupun baru yang mau ikut serta menjual barang, sampai mereka yang datang ke acara garage sale untuk membeli barang-barang yang mereka butuhkan.
Untuk setiap kawan yang saya temui lewat kegiatan garage sale, saya harus genuinely membuka diri. Tanpa agenda, tanpa asumsi.
Dalam sebuah rangkaian kegiatan garage sale, saya terus diminta untuk terus belajar meng-apresiasi dan toleransi. Terhadap orang yang baru saya kenal sekalipun. Minat, tenaga dan waktu yang diluangkan untuk sebuah kegiatan garage sale patut dihargai.
Dan semua hal mendasar ini harus banyak saya lakukan dengan hati.
Kalau tidak, garage sale yang saya gelar pasti hambar rasanya. Paling tidak untuk saya sendiri.
Persis seperti yang dirasakan oleh Julia Child. Lewat kegiatan sederhana berbelanja di pasar, ia mendapatkan pelajaran values of human relations yang sangat mendalam, yaitu menghargai dan mengenal setiap penjual daging, ikan dlsb. Berteman, bertatap muka, menyapa, berkomunikasi dengan hati. Hasilnya? Menurut pengakuannya, ini salah satu unsur yang membuat masakannya terasa istimewa!
Yang saya alami setelah 3 kali menggelar kegiatan garage sale?
Rasanya seperti me-recharge dan melatih diri sendiri.
Membuat diri untuk selalu kembali ke basics of human relations.
Dan akhirnya setiap kegiatan garage sale dapat menjadi kucuran air segar di batin saya, yang seperti juga jutaan penduduk Jakarta lainnya, seringkali tanpa sadar terperangkap dalam tuntutan dan kesibukan kehidupan Jakarta.