Dari hasil Jakarta Garage Sale (JGS) menyortir barang-barang rumah tangga bekas selama 1 bulan, terkumpul hampir 4.000 barang rumah tangga bekas yang jenisnya bermacam-macam dan semuanya dalam kondisinya layak pakai, bahkan banyak barang yang belum pernah dipakai oleh pemiliknya.
Untuk saya, jumlah 4.000 barang rumah tangga bekas bukanlah jumlah yang sedikit. Dan jumlah ini membuat saya berpikir.
Disela-sela kesibukan kita sehari-hari, coba luangkan waktu sebentar melihat isi rumah kita.
Pastinya ada banyak jenis barang di dalamnya!
Menurut wikipedia, yang termasuk barang rumah tangga adalah segala macam jenis barang dan produk yang digunakan di rumah tangga, yang sifat bendanya bisa dipegang dan bisa dipindah. Benda-benda ini digunakan untuk keperluan pribadi dan ditempatkan serta digunakan diseluruh area rumah pribadi.
Jenisnya bermacam-macam. Mengutip contoh barang rumah tangga dari wikipedia, antara lain :pendingin ruangan (AC), barang-barang bayi, peralatan masak, peralatan dapur (kulkas, blender, coffee maker, dll), tempat tidur dan perlengkapannya (matras, selimut, bantal, sprei, dll), handuk, perabotan rumah tangga (kursi, lemari, meja, dll), alat elektronik (komputer, TV, stereo set, dll), decorative items (korden, lampu, karpet, cermin, dll), peralatan kebun, mainan, baju, sepatu, tas, buku, dll.
Nah … coba lihat lagi benar-benar barang-barang rumah tangga yang ada di rumah kita …
Biasanya akan ‘terlihat’ oleh kita : ada barang rumah tangga yang banyak/sering dipakai dan ada juga barang rumah tangga yang sudah tidak dipakai lagi, bahkan sudah tidak disentuh lagi dan hanya menghabiskan ‘waktunya’ di dalam kotak/lemari/gudang.
Dan biasanya, jumlah kedua jenis barang ini tidak sedikit di dalam satu rumah tangga.
Kemarin saya baru saja selesai membaca Majalah National Geographic edisi special “Detak Bumi – Bumi Kita Kini 2010” (a highly recommended reading material). Ada banyak pernyataan di dalamnya yang membuat saya merinding: saya kutip salah satunya: “Walau disertai kecemasan ekonomi, kita telah menjadi sebuah dunia konsumen yang saling terhubung di zaman yang penuh perubahan”.
Lalu, pernyataan lainnya, saya kutip lagi, “Perdagangan global membawa hasrat di seluruh dunia ke tingkat yang baru. Ada lebih banyak orang dengan lebih banyak uang yang mencari jalan untuk lebih banyak mengkonsumsi hampir semua hal. Mulai dari makanan berbasis biji-bijian sampai ikan dan daging. Mulai dari barang produksi lokal hingga yang bermerek internasional. Mulai dari pemenuhan kebutuhan sederhana hingga aspirasi material nan megah. Singkatnya, dunia kita terajut oleh ikatan perdagangan dan konsumsi yang baru”.
Pernyataan ini sedikit banyak pasti tercermin di rumah kita masing-masing.
Sekarang, ayo kita lihat lagi apa yang ada dibelakang barang-barang rumah tangga yang kita pakai ataupun yang kita biarkan menganggur tersimpan di rumah kita?
Kembali saya diingatkan lewat artikel Majalah National Geographic yang baru saya baca, bahwa banyak sekali bahan mentah dan energi alami bumi yang digunakan untuk memproduksi barang-barang rumah tangga. Dan kita semua tahu, dengan semua pembicaraan seputar Global Warming yang beberapa tahun kebelakang menjadi perhatian banyak orang, bahwa eksploitasi bahan mentah dan energi bumi alami ini menjadi ancaman kerusakan bagi bumi kita.
Ini bukan masalah baru. Bahkan para produsen barang sudah banyak yang mencari akal untuk mengganti atau mengurangi bahan mentah dan energi alami bumi yang mereka pakai dalam proses produksi barang. Tapi konsekuensi dari bertahun-tahun dilakukannya eksploitasi bahan mentah dan energi alami sudah terlanjur terjadi. Jutaan pohon sudah hilang, persediaan minyak bumi semakin sulit dicari, dan banyak lagi.
Lalu bagaimana dengan kita sendiri? Yang menjadi pembeli, pemilik dan pengguna barang?
Saya tidak punya pabrik. Saya tidak punya brand. Saya tidak punya toko. Saya adalah satu dari sekian banyaknya pembeli, pemilik dan pengguna barang rumah tangga di dunia. Ayo kita lihat ….
Walaupun menurut Wikipedia jumlah sampah rumah tangga memakan porsi kecil dalam keseluruhan sampah, bukan berarti masalah ini tidak perlu kita perhatikan, apalagi kita adalah ‘pelaku’ di dunia rumah tangga.
Bayangkan : ada lebih dari 6 milliar orang yang hidup di bumi.
Artinya ada berapa banyak rumah tangga?
Artinya ada berapa banyak barang rumah tangga?
Artinya ada berapa banyak barang rumah tangga tidak terpakai?
(Do the math, please ….)
Barang-barang rumah tangga yang tidak terpakai ini, yang pada awal kita simpan di lemari/gudang masih dalam kondisi baik, karena terlalu lama disimpan akhirnya malah menjadi rusak dan bahkan tidak dapat berfungsi lagi.
Akhirnya barang-barang ini jadi apa?
Saya pinjam istilah yang biasa digunakan oleh tukang pulung sampah: barang-barang ini berubah menjadi “rongsokan”.
Sungguh sayang. Sungguh egois.
Kalau saja barang-barang rumah tangga yang tidak terpakai ini kita alih-tangan-kan tepat pada waktunya, pastinya barang-barang ini akan melanjutnya ‘fungsinya’ sebagai barang rumah tangga yang berguna dalam kehidupan manusia (walaupun orang lain yang tidak kita kenal sekalipun).
Dan bukankah pengalihtanganan ini sama dengan pemakaian ulang sebuah barang rumah tangga, yang bermanfaat bagi lingkungan seperti halnya kegiatan daur ulang sampah?
4.000 barang rumah tangga bekas yang sekarang disimpan dalam gudang JGS, yang berasal hanya dari 38 orang member JGS yang ikut berpartisipasi menitipkan barangnya, siap untuk dijual diacara garage sale dan dialih-tangankan.
4.000 barang rumah tangga bekas ini siap untuk dipakai ulang oleh pemilik barunya (yang mudah-mudahan, pada waktunya nanti, juga bersedia untuk mengalihtangankan kembali ‘si’ barang kepada pemilik generasi ketiga dan seterusnya (bila memang ‘si’ barang bertahan fungsi dan kondisinya)).
Barang-barang rumah tangga bekas yang akan dijual diacara garage sale JGS tidak jual karena sudah ‘rongsok’. Melainkan dijual karena pemiliknya sadar penuh bahwa barang-barang ini sudah tidak dapat mereka pakai lagi dan bisa lebih bermanfaat untuk pemilik barunya.
Memang, acara garage sale yang digelar JGS tidak bisa mengurangi tingkat konsumsi dunia.
Tidak juga mengurangi jumlah bahan mentah dan energi alami bumi yang dipakai dalam proses produksi barang rumah tangga di dunia.
Tapi paling tidak, kita sama-sama melakukan sebuah tindakan kecil untuk bumi kita.
Bayangkan, kalau 2000 lebih member JGS yang sudah bergabung dalam group meng-alihtangankan 100 buah saja barang rumah tangganya yang sudah tidak lagi dipakai.
Artinya ada berapa banyak barang rumah tangga bekas yang akan dipakai ulang?
Artinya ada berapa rumah tangga baru yang akan merasakan manfaat si barang rumah tangga bekas tersebut?
Dan seterusnya …
(Do the math again, please ….)
No comments:
Post a Comment